Friday, August 1

reality vs illusion

Sekitar seminggu yang lalu saya terserang batuk pilek. Tiga hari pertama badan saya sakit semua. Meriang, pusing dan nyeri diseluruh persendian. Tak ingin berlarut-larut sakit saya pergi ke puskesmas dekat rumah. Setelah menunggu sekitar setengah jam, giliran nomor urut saya dipanggil. Saya diperiksa secukupnya dan diberikan resep yang hanya dapat ditebus di apotik puskesmas tersebut.

Puskesmas yang saya datangi tampak bersih, gedungnya pun besar dan megah. Tidak seperti puskesmas lain yang pernah saya tahu, kata orang, puskesmas ini adalah puskesmas percontohan.

Hanya dengan 2000 rupiah saja saya sudah bisa berkonsultasi dengan dokter dan pulang membawa obat. Mereka memberikan saya obat batuk pilek, antibiotik, dan parasetamol.

Sesampainya dirumah, saya tidak langsung meminum obat2 tersebut. Sebenarnya saya tidak suka bila harus mengkonsumsi antibiotik. Dalam hati ada rasa tidak tenang. Apa mungkin dokter puskesmas memang gampang memberikan antibiotik? Ah jangan-jangan dokter puskesmas hanya dokter magang yang tidak cukup pintar. Biayanya saja murah sekali.

Setelah cukup lelah dengan perang batin, akhirnya saya memeriksakan kembali diri saya ke dokter umum RS Bunda. Lebih mahal, pasti lebih bagus saya pikir.

Saya diperiksa oleh seorang dokter cantik berkerudung yang memang kelihatannya lebih meyakinkan. Well, setidaknya hati ini merasa tenang dan yakin bahwa dokter nya memang lebih pintar. Sebelum pulang saya diberikan resep yang langsung saya tebus. Saya mendapatkan Antibiotik dan obat batuk pilek (lagi).

Jadi, untuk konsultasi dengan dokter dan mendapatkan obat yang ternyata sama dengan yang diberikan oleh puskesmas saya dikenakan biaya sekitar 500 ribu rupiah. Anehnya, saya merasa lebih percaya dengan layanan yang mengharuskan saya membayar jauh lebih mahal padahal metode dan cara penyembuhannya pun sama saja. Isinya sih sama saja, nggak lebih bagus, hanya kemasan yang berbeda.