Saturday, September 6

the message

Dear Lisette,

Nothing is impossible, as long as you wish it with all your heart.

Paulo Coelho
www.paulocoelho.com
www.paulocoelhoblog.com

Friday, August 1

reality vs illusion

Sekitar seminggu yang lalu saya terserang batuk pilek. Tiga hari pertama badan saya sakit semua. Meriang, pusing dan nyeri diseluruh persendian. Tak ingin berlarut-larut sakit saya pergi ke puskesmas dekat rumah. Setelah menunggu sekitar setengah jam, giliran nomor urut saya dipanggil. Saya diperiksa secukupnya dan diberikan resep yang hanya dapat ditebus di apotik puskesmas tersebut.

Puskesmas yang saya datangi tampak bersih, gedungnya pun besar dan megah. Tidak seperti puskesmas lain yang pernah saya tahu, kata orang, puskesmas ini adalah puskesmas percontohan.

Hanya dengan 2000 rupiah saja saya sudah bisa berkonsultasi dengan dokter dan pulang membawa obat. Mereka memberikan saya obat batuk pilek, antibiotik, dan parasetamol.

Sesampainya dirumah, saya tidak langsung meminum obat2 tersebut. Sebenarnya saya tidak suka bila harus mengkonsumsi antibiotik. Dalam hati ada rasa tidak tenang. Apa mungkin dokter puskesmas memang gampang memberikan antibiotik? Ah jangan-jangan dokter puskesmas hanya dokter magang yang tidak cukup pintar. Biayanya saja murah sekali.

Setelah cukup lelah dengan perang batin, akhirnya saya memeriksakan kembali diri saya ke dokter umum RS Bunda. Lebih mahal, pasti lebih bagus saya pikir.

Saya diperiksa oleh seorang dokter cantik berkerudung yang memang kelihatannya lebih meyakinkan. Well, setidaknya hati ini merasa tenang dan yakin bahwa dokter nya memang lebih pintar. Sebelum pulang saya diberikan resep yang langsung saya tebus. Saya mendapatkan Antibiotik dan obat batuk pilek (lagi).

Jadi, untuk konsultasi dengan dokter dan mendapatkan obat yang ternyata sama dengan yang diberikan oleh puskesmas saya dikenakan biaya sekitar 500 ribu rupiah. Anehnya, saya merasa lebih percaya dengan layanan yang mengharuskan saya membayar jauh lebih mahal padahal metode dan cara penyembuhannya pun sama saja. Isinya sih sama saja, nggak lebih bagus, hanya kemasan yang berbeda.

Wednesday, July 30

TO THE ONE

To the one who understood her task and her purpose.
To the one who looked at the road ahead, and understood that it was a difficult journey.

To the one who did not make light of those difficulties,
but, on the contrary, made them manifest and visible.

To the one who makes the lonely feel they are not alone,
who satisfies those who hunger and thirst for justice, who makes the oppressor feel as bad as the oppressed.

To the one who always keeps her door open,
her ears listening, her hands working, her feet walking.

To the one who embodies the verses of another Persian poet,
Hafez, when he says: Not even seven thousand years of joy are worth seven days of sadness.

To the one who is here tonight, may she be one with all of us,
may her example multiply, may she still have difficult days ahead,
so that she can do whatever she needs to do,
so that the next generations will not have to strive
for what has already been accomplished.

And may she walk slowly,
because her peace is the peace of change,
and chage, real change, always takes time.

(Message from Paulo Coelho to honour Shirin Ebadi at the Nobel Peace Prize Ceremony, Oslo, December 11th 2003).

Tuesday, July 15

My Precious


Welcome to the world
Mommy will always be here for you
Don't you worry about a thing